Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana menekan penambahan utang baru pada 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan fiskal. Meski demikian, Purbaya menekankan strategi itu tidak akan dilakukan dengan cara-cara yang membahayakan pertumbuhan atau merusak kepercayaan pasar.
“Manage Uang dengan Baik” — Kunci Menekan Utang
Menurut Purbaya, inti dari strategi pengendalian utang adalah manajemen keuangan yang cermat. “Yang penting adalah mengelola uang pemerintah dengan tepat, agar tidak mengganggu ekonomi,” ujarnya. Dengan cara demikian, ia percaya penambahan utang bisa diminimalkan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan.
Purbaya juga menyebut bahwa pendekatan restriktif terhadap utang tak boleh membebani sektor produktif. Dia menegaskan bahwa fokus utama tetap pada pertumbuhan ekonomi dan kapasitas pendapatan negara.
Strategi Pendukung untuk “Ngerem Utang”
Beberapa langkah konkret yang kemungkinan akan ditempuh pemerintah antara lain:
-
Meningkatkan penerimaan negara lewat upaya intensif seperti penagihan piutang pajak besar, memperketat pengawasan cukai, dan memperluas basis pajak.
-
Menunda atau mengatur ulang program belanja agar prioritas dialihkan ke sektor-sektor strategis yang memiliki efek pengganda terhadap pertumbuhan.
-
Efisiensi anggaran & pemotongan pemborosan dalam belanja pemerintah agar dana tersedia untuk kebutuhan utama tanpa harus bergantung utang baru.
-
Koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar kebijakan fiskal dan moneternya selaras, dan agar relaksasi utang bisa dihindari kecuali dalam kondisi mendesak.
Tantangan & Perhatian
-
Memangkas utang baru tidak bisa dilakukan dengan cara yang sembrono — harus diimbangi dengan keamanan anggaran agar pembangunan tidak mandek.
-
Pendapatan negara pun harus tumbuh stabil agar beban utang lama tetap bisa dikelola tanpa harus menambah pinjaman baru.
-
Jika pasar memandang kebijakan “ngerem utang” sebagai sinyal pengetatan fiskal, bisa timbul tekanan terhadap suku bunga atau kurs mata uang.










