Jakarta – Pengamat kebijakan publik Said Didu menilai pernyataan terbaru Purbaya Yudhi Sadewa selaku Menteri Keuangan sebagai suatu langkah yang ia sebut “membuka kotak Pandora” dari persoalan utang di era pemerintahan Joko Widodo.
Menurut Said Didu, pernyataan Purbaya yang menyentuh proyek kereta cepat “Whoosh” antara Jakarta-Bandung sekaligus menjadi pemicu terbongkarnya ketidakberesan dalam pengelolaan fiskal sebelumnya.
Said Didu menyebut bahwa saat menangani keuangan negara, kebijakan di masa sebelumnya — khususnya ketika Sri Mulyani Indrawati menjabat sebagai Menteri Keuangan — telah menyebabkan beban utang yang “melejit”. Ia mengklaim bahwa utang negara serta kewajiban-negara lainnya telah meningkat dari sekitar Rp8.000 triliun menjadi Rp24.000 triliun.
Tak hanya itu, ia juga menyebut bahwa beban cicilan dan bunga utang turut membesar. Contohnya, cicilan yang semula berkisar Rp400 triliun naik menjadi sekitar Rp1.600 triliun, dan bunga utang naik dari sekitar 2 % menjadi 6-7 %.
Purbaya Yudhi Sadewa sendiri mengomentari proyek kereta “Whoosh” sebagai investasi jangka panjang yang memiliki nilai sosial, namun ia menekankan bahwa pengembangan ekonomi di sepanjang jalur tersebut perlu diperkuat agar proyek ini benar-benar memberikan manfaat. “(Pernyataan Jokowi) ada betulnya juga sedikit, karena kan Whoosh sebetulnya ada misi regional development juga,” katanya.
Said Didu melihat komentar semacam itu sebagai sinyal bahwa persoalan keuangan negara yang selama ini mungkin tertutup atau kurang transparan kini mulai terkuak. “Maka ini kotak pandoranya dibuka (oleh Purbaya),” ujarnya tajam.









