Jakarta – Mata uang di kawasan Asia menunjukkan performa tangguh dalam menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi perdagangan pagi ini. Tekanan terhadap dolar AS selama beberapa hari ke belakang memberikan kesempatan bagi mayoritas nilai tukar Asia, tidak terkecuali rupiah, untuk unjuk gigi.
Berdasarkan data dari Refinitiv pada hari Rabu (5/8/2026) pukul 09.16 WIB, sembilan dari sepuluh mata uang Asia mencatatkan apresiasi terhadap dolar AS. Hanya ada satu mata uang yang terperosok ke zona negatif.
Rupiah berhasil menempati posisi teratas sebagai mata uang dengan lonjakan tertinggi di Asia pagi ini. Nilai tukar Garuda terapresiasi sebesar 0,44 persen dan bertengger di level Rp17.935/US$. Kinerja positif ini membawa rupiah semakin menjauhi angka psikologis Rp18.000/US$.
Menyusul rupiah, won Korea Selatan mengalami kenaikan 0,42 persen menjadi KRW 1.422,9/US$. Dolar Taiwan juga menanjak cukup signifikan sebesar 0,31 persen ke level TWD 32,3/US$.
Sementara itu, peso Filipina ikut menguat 0,11 persen menjadi PHP 60,901/US$, dan yuan China terapresiasi 0,09 persen di angka CNY 6,747/US$.
Penguatan juga terjadi pada yen Jepang sebesar 0,07 persen dan baht Thailand sebesar 0,06 persen. Apresiasi yang lebih terbatas dialami oleh dong Vietnam dan dolar Singapura, di mana keduanya kompak naik 0,02 persen.
Sebaliknya, ringgit Malaysia menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang mencatatkan rapor merah. Ringgit melemah sebesar 0,10 persen ke level MYR 4,089/US$.
Mayoritas mata uang Asia yang menguat pagi ini dipicu oleh pergerakan dolar AS yang cenderung lesu dalam beberapa hari terakhir. Kendati pada waktu bersamaan, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau naik tipis 0,03 persen di posisi 99,888.
Meski begitu, kenaikan marginal tersebut belum mampu membalikkan tren pelemahan dolar AS. DXY masih tertahan di bawah angka 100 dan tampak sulit menentukan arah setelah anjlok ke titik terendah dalam enam pekan terakhir pada hari Senin lalu.
Pelemahan dolar AS ini juga tidak lepas dari dampak anjloknya harga minyak mentah. Pada perdagangan Rabu pagi, harga minyak kembali merosot ke bawah level US$80 per barel, menyusul kejatuhan tajam sebesar 5 persen pada sesi sebelumnya.
Terkoreksinya harga minyak dunia ini didorong oleh munculnya sinyal-sinyal penyelesaian diplomatik dalam konflik yang melibatkan Iran. Prospek damai tersebut mengurangi kecemasan pasar atas potensi gangguan pasokan energi, sehingga investor mulai melepaskan premi risiko yang sebelumnya membebani harga minyak.
Pada hari Selasa, pihak Qatar menyampaikan bahwa para mediator mulai melihat adanya progres dalam upaya menghentikan peperangan. Situasi ini menumbuhkan optimisme bahwa distribusi minyak yang melewati Selat Hormuz akan membaik.
Penurunan harga emas hitam ini pada gilirannya memberikan tekanan tersendiri bagi dolar AS. Melandainya harga energi diyakini dapat meredam kekhawatiran atas lonjakan inflasi, yang kemudian memicu pasar untuk menurunkan ekspektasi mereka terhadap rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed).
Sinyal ini juga tecermin pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) bertenor dua tahun yang bergerak di kisaran terendah selama dua pekan terakhir. Mengingat instrumen ini sangat sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga, pelemahannya mengindikasikan bahwa pelaku pasar sedang mengkalkulasi ulang probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September mendatang.
Merujuk pada data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September telah menyusut menjadi 60 persen, turun drastis dari angka 75 persen pada pekan sebelumnya.
Ke depannya, fokus pelaku pasar akan bergeser pada rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya laporan nonfarm payrolls yang dijadwalkan terbit pada hari Jumat. Data tersebut diproyeksikan menjadi acuan krusial untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus memprediksi arah kebijakan The Fed selanjutnya.









