Di tengah derasnya arus kritik dan persepsi negatif publik terhadap institusi kepolisian, sebuah pembelaan muncul dari Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam). Ia menyoroti betapa besarnya jurang pemisah antara dedikasi nyata anggota Polri di lapangan dengan penilaian masyarakat yang sering kali dianggap tidak objektif.
Dalam sebuah pernyataan terbaru, Menko Polkam mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena “penghakiman” massal oleh publik. Ia menegaskan bahwa di saat masyarakat menikmati libur panjang atau merayakan hari raya, ribuan personel polisi justru tetap bersiaga di jalanan dan pelosok daerah demi menjaga ketertiban.
“Seolah-olah polisi tidak melakukan apa-apa. Padahal mereka sudah banting tulang, kerja siang malam tanpa mengenal cuti, bahkan di hari lebaran saat orang lain berkumpul dengan keluarga,” tegasnya.
Potret Kesabaran di Balik Seragam
Realitas di lapangan sering kali jauh lebih kompleks daripada apa yang terlihat di layar ponsel. Salah satu bukti nyata terekam dalam sebuah momen mengharukan saat aksi demonstrasi mahasiswa. Seorang personel polisi tetap berdiri tenang meski seorang pedemo mencoret sorban putih yang dikenakannya dengan tulisan bernada cacian.
Bukannya bereaksi dengan kekerasan, petugas tersebut memilih untuk tetap diam dan menjaga situasi tetap kondusif. Momen ini menjadi simbol kuat bahwa di balik seragam tersebut, terdapat sosok yang menjaga iman dan kesabaran meski harga dirinya diusik di tengah tugas negara.
Dunia maya sering kali menjadi tempat di mana tindakan polisi dipotong tanpa konteks (framing). Muncul sebuah dilema besar: ketika polisi bertindak lembut, mereka diremehkan; namun saat bertindak tegas, mereka dituduh arogan dan melanggar hak asasi manusia.
Sering kali publik membandingkan ketegasan polisi di luar negeri dengan Indonesia. Namun, terdapat ironi di mana ketegasan hukum di negara maju dianggap sebagai bentuk kedisiplinan, sementara di tanah air, langkah serupa sering kali diviralkan dengan narasi negatif demi memancing emosi publik.
“Ketegasan polisi sebenarnya adalah cerminan dari kedisiplinan masyarakatnya sendiri. Kita tidak bisa menuntut hukum berdiri tegak jika kita sendiri masih hobi meliuk di antara aturan,” ungkap narasi dalam sebuah pesan edukasi terkait peran Polri.
Meskipun dihujani kritik, Menko Polkam mengingatkan seluruh jajaran kepolisian untuk tidak berkecil hati. Ia meminta Polri untuk terus melakukan perbaikan internal dan memenuhi kekurangan yang ada tanpa harus terpengaruh oleh opini yang mendeskreditkan kerja keras mereka.
Evaluasi memang mutlak diperlukan, namun apresiasi terhadap mereka yang telah mengabdi dengan jujur juga jangan sampai terlupakan. Perjalanan menuju institusi yang ideal masih panjang, dan hal itu membutuhkan sinergi serta kedewasaan dari kedua belah pihak: kepolisian yang profesional dan masyarakat yang taat hukum.









