Malang — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 06 Kidal menggelar Seminar Cagar Budaya bertema “Menjaga Kelestarian Cagar Budaya sebagai Warisan Sejarah dan Identitas Bangsa” di kawasan Candi Kidal, Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jumat (28/8/2026). Kegiatan ini membahas pentingnya pemahaman masyarakat terhadap Candi Kidal sebagai warisan sejarah sekaligus bagian dari identitas Desa Kidal.
Seminar tersebut dihadiri Kepala Desa Kidal Achmad Taufik, sejumlah anggota PKK Desa Kidal, serta mahasiswa KKN-T 06 Kidal. Sebanyak 17 mahasiswa terlibat dalam rangkaian kegiatan, sedangkan seminar diikuti oleh tujuh peserta.
Kegiatan diselenggarakan oleh mahasiswa KKN-T 06 Kidal dengan Muhammad Arif Habibi sebagai ketua koordinasi dan seluruh mahasiswa KKN-T 06 Kidal sebagai penanggung jawab. Acara dimulai pukul 16.47 WIB dengan pembukaan oleh Lilik selaku pembawa acara, dilanjutkan pembacaan Al-Fatihah dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi seminar dan sesi tanya jawab hingga berakhir sekitar pukul 17.47 WIB.
Ketua koordinasi kegiatan, Muhammad Arif Habibi, mengatakan seminar tersebut dilatarbelakangi oleh sejumlah persoalan yang terdapat di sekitar Candi Kidal. Kegiatan tersebut ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Candi Kidal merupakan warisan yang berada di Desa Kidal dan perlu dijaga bersama.
“Yang melatarbelakangi kami mengadakan acara seminar ini adalah beberapa masalah yang ada di sekitar candi,” ujar Habibi.
Menurut Habibi, seminar tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keberadaan dan pentingnya menjaga Candi Kidal sebagai bagian dari warisan sejarah.
Pemateri seminar, Dr. Fajar S. Ananta, M.Pd., menyoroti hubungan antara keberadaan Candi Kidal dengan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ia mempertanyakan sejauh mana masyarakat, khususnya generasi muda Desa Kidal, memahami sejarah candi yang berada di lingkungan mereka.
“Candi Kidal itu candi yang berada di desa, apakah sudah hidup bersama warganya?” kata Fajar.
Fajar menjelaskan bahwa sejarah Candi Kidal perlu diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini. Menurutnya, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi untuk menyampaikan sejarah dan nilai budaya candi dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda.
Ia juga mengaitkan relief Garudeya yang terdapat pada Candi Kidal dengan nilai pendidikan. Kisah Garudeya tentang perjuangan Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan dinilai dapat menjadi media untuk mengenalkan nilai keberanian, kesetiaan terhadap tujuan, perjuangan menghadapi kesulitan, serta penghormatan kepada orang tua.
Menurut Fajar, nilai-nilai tersebut dapat dikemas melalui media yang dekat dengan anak-anak, seperti konten digital atau animasi. Dengan demikian, sejarah Candi Kidal dapat lebih mudah dipahami oleh generasi muda.
Selain sejarah, Fajar turut menyoroti potensi budaya dan ekonomi yang dimiliki Desa Kidal. Ia menyebut Batik Garudeya dan kegiatan UMKM sebagai bagian dari potensi yang dapat dikembangkan seiring dengan pengenalan sejarah Candi Kidal.
Ia menilai masyarakat Desa Kidal tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika wisatawan datang berkunjung. Pemahaman terhadap sejarah candi dinilai penting agar masyarakat dapat mengenali warisan yang dimiliki desanya sekaligus mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya.
Seminar tersebut menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa dan peserta untuk membahas pelestarian cagar budaya, pengenalan sejarah kepada generasi muda, serta hubungan antara Candi Kidal dengan kehidupan masyarakat Desa Kidal. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian program mahasiswa KKN-T 06 Kidal selama melaksanakan pengabdian di Desa Kidal.
Penulis : Elza Dhea Salsabila









