Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
banner 325x300
banner 325x300
Banner Utama RawaMedia
Kesehatan

Mengenal Hiponatremia, Kondisi Fatal Akibat Keracunan

admin@rawamedia.com
111
×

Mengenal Hiponatremia, Kondisi Fatal Akibat Keracunan

Share this article
Mengenal Hiponatremia, Kondisi Fatal Akibat Keracunan
Banner RawaMedia

Nasihat untuk minum air putih setidaknya delapan gelas sehari sudah sangat akrab di telinga masyarakat. Kita semua tahu hidrasi sangat penting bagi kesehatan. Namun, tahukah Anda bahwa minum air putih dalam jumlah yang berlebihan justru bisa berbahaya, bahkan fatal?

Para pakar kesehatan memperingatkan adanya sebuah kondisi serius yang disebut hiponatremia atau yang awam kenal sebagai “keracunan air”. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak air dalam waktu yang terlalu singkat.

 

Apa Itu Hiponatremia?

Dr. Adeline, seorang ahli penyakit dalam, menjelaskan bahwa hiponatremia adalah kondisi di mana kadar natrium (sodium) dalam darah menjadi sangat rendah akibat terdilusi atau menipis.

“Bayangkan darah kita memiliki keseimbangan antara air dan elektrolit, salah satunya natrium. Ketika kita minum air terlalu banyak dan terlalu cepat, ginjal tidak sanggup membuang kelebihan cairan tersebut. Akibatnya, darah menjadi ‘encer’ dan konsentrasi natrium anjlok,” jelasnya saat dihubungi, Kamis (18/9/2025).

Padahal, natrium adalah elektrolit krusial yang berfungsi menjaga keseimbangan cairan di dalam dan di luar sel, serta mendukung fungsi saraf dan otot.

 

Gejala yang Harus Diwaspadai

Saat kadar natrium dalam darah menurun, air akan berpindah masuk ke dalam sel-sel tubuh dan membuatnya membengkak, termasuk sel-sel otak. Inilah yang menimbulkan gejala berbahaya.

Gejala awal hiponatremia seringkali tidak spesifik, seperti:

  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala
  • Rasa lelah dan kebingungan

Namun, jika kondisi memburuk, gejalanya bisa menjadi sangat serius:

  • Kejang-kejang
  • Kram atau kelemahan otot
  • Penurunan kesadaran hingga koma

Pada kasus yang paling parah, pembengkakan sel-sel di otak dapat menyebabkan kerusakan permanen hingga kematian.

 

Berapa Banyak Air yang “Terlalu Banyak”?

Kabar baiknya, kondisi ini relatif jarang terjadi pada orang sehat dengan kebiasaan minum yang normal. Risiko tertinggi biasanya dialami oleh:

  • Atlet ketahanan (misalnya, pelari maraton) yang minum air dalam jumlah besar tanpa mengganti elektrolit yang hilang lewat keringat.
  • Orang dengan kondisi medis tertentu (seperti gagal ginjal atau gagal jantung) yang kemampuan tubuhnya untuk mengeluarkan cairan terganggu.

Jadi, berapa takaran yang pas? Para ahli menyarankan untuk tidak terpaku pada aturan “8 gelas sehari”. Indikator terbaik adalah:

  1. Dengarkan Rasa Haus: Bagi kebanyakan orang sehat, rasa haus adalah sensor alami yang paling akurat untuk mengetahui kapan tubuh butuh cairan.
  2. Perhatikan Warna Urine: Warna urine yang ideal adalah kuning pucat seperti limun. Jika warnanya bening seperti air, itu bisa jadi pertanda Anda minum berlebihan. Jika kuning pekat, Anda perlu minum lebih banyak.
  3. Hindari Memaksa Minum: Bahaya muncul saat seseorang memaksakan diri minum beberapa liter air dalam rentang waktu satu atau dua jam.

Kesimpulan: Tetaplah terhidrasi, namun jangan berlebihan. Keseimbangan adalah kunci. Dengarkan sinyal tubuh Anda, karena air yang merupakan sumber kehidupan juga bisa berbahaya jika dikonsumsi tanpa kendali.