Jakarta – Keluhan telinga berdenging (tinitus) ternyata tidak hanya mengganggu pendengaran — sejumlah penelitian menyebutkan bahwa kondisi ini juga bisa memengaruhi kualitas tidur dan menyebabkan insomnia kronis. Bagi sebagian penderita, suara “dengung” atau “berdering” terus-menerus di telinga saat malam hari bisa membuat tidur sulit atau terputus-putus.
Bukti Ilmiah Menguatkan Keterkaitan Tinitus — Gangguan Tidur
-
Sebuah studi yang diterbitkan pada 2023 menemukan bahwa banyak pasien tinitus melaporkan kualitas tidur buruk — sekitar 72,2% peserta menilai tidurnya tidak nyenyak setelah mengalami tinitus. Semakin parah persepsi tinitus, semakin besar pula kemungkinan muncul insomnia.
-
Penelitian lain menunjukkan bahwa aktivitas abnormal di otak akibat tinitus dapat tetap aktif ketika seseorang tidur — menyebabkan semacam “bangun lokal” (local wakefulness) dalam otak sehingga menghambat tercapainya tidur restoratif penuh.
-
Analisis lebih luas menunjukkan bahwa gangguan tidur umum terjadi pada penderita tinitus. Salah satu meta-analisis menemukan bahwa insomnia dan gangguan tidur berkisar pada 50-66% dari populasi tinitus kronis.
Dengan demikian, hubungan antara tinitus dan gangguan tidur bukan sekadar kebetulan — melainkan memiliki dasar neurofisiologis yang cukup kuat.
Mengapa Tinitus Membuat Sulit Tidur?
Beberapa mekanisme yang diduga menyebabkan itu antara lain:
-
Saat lingkungan sekitar sunyi — terutama saat malam — suara tinnitus jadi makin jelas. Ketenangan lingkungan menyebabkan otak “lebih mendengar” suara internal, membuat sulit memejamkan mata.
-
Aktivitas neuron yang terus “berdengung” mengganggu ritme normal tidur — terutama fase tidur dalam (deep sleep) — sehingga tidur tidak nyenyak, sering terbangun, atau terasa tidak segar.
-
Kepedulian dan stres akibat terus-menerus mendengar suara di telinga bisa memicu kecemasan dan gangguan psikologis, yang pada gilirannya memperparah insomnia.
Saran & Strategi Mengatasi Tinitus dan Gangguan Tidur
Jika Anda atau orang terdekat mengalami tinitus dan sulit tidur, berikut beberapa cara yang bisa membantu:
-
Ciptakan suasana malam yang “bersuara latar” — misalnya mainkan suara putih (white noise), musik lembut, atau kipas angin. Ini membantu menutupi suara tinitus dan membuat otak lebih mudah rileks. Masker suara semacam ini dikenal sebagai metode masking tinnitus.
-
Rutin relaksasi sebelum tidur — meditasi ringan, pernapasan dalam, atau teknik relaksasi bisa membantu menenangkan saraf dan mengurangi dampak stres akibat tinnitus.
-
Atur ulang kebiasaan tidur — tidur dan bangun di waktu yang sama, hindari kafein atau alat elektronik sebelum tidur, dan ciptakan lingkungan tidur gelap serta sunyi.
-
Konsultasikan ke profesional kesehatan — untuk mendapat penilaian medis, termasuk kemungkinan terapi suara, cek pendengaran, atau intervensi lainnya seperti Tinnitus Retraining Therapy (TRT).
-
Perhatikan gaya hidup sehat — hindari paparan suara keras, jaga kesehatan fisik & mental, dan hindari stres berat, sebab stres memperburuk tinnitus dan gangguan tidur.
Pesan Penting
Tinitus bukan sekadar masalah pendengaran — dampaknya bisa meluas ke aspek penting lain seperti kualitas tidur dan kesehatan mental. Bila tidak dikelola dengan baik, insomnia akibat tinitus bisa menurunkan kualitas hidup, meningkatkan stres, serta menimbulkan kelelahan fisik dan psikologis.
Oleh karena itu, penting bagi penderita tinitus untuk tidak mengabaikan gejala gangguan tidur. Suara di telinga mungkin tidak terlihat — tetapi efeknya nyata bagi kualitas istirahat dan kesehatan.










